
BANDUNG – Kolaborasi lintas negara menjadi salah satu cara bagi desainer untuk mengeksplorasi kekayaan budaya melalui karya fashion. Hal inilah yang tengah dijajaki oleh desainer Indonesia Deden Siswanto atau yang akrab dipanggil Densis, dengan desainer asal Kuala Lumpur, Malaysia, Asfarena Samion.
Densis yang juga merupakan founder Islamic Fashion Institute (IFI), menyambut kedatangan Asfarena untuk memulai proses kolaborasi yang mengangkat identitas budaya kedua negara. Dalam pertemuan tersebut, keduanya berencana mengolah, menyesuaikan, dan menata elemen budaya ke dalam karya fashion dengan pendekatan masing-masing.

“Hari ini kebetulan kedatangan Ibu Asfarena dari Malaysia, Kuala Lumpur. Nah, di sini kita akan mau mengolah, mengubah, dan men-styling,” ujar Densis saat memperkenalkan rencana kolaborasi mereka di kediamannya.
Bagi Densis, kerja sama ini berangkat dari kedekatan budaya Indonesia dan Malaysia. Keduanya berada di kawasan Asia Tenggara dan memiliki sejumlah kesamaan yang dapat menjadi titik awal untuk bertukar gagasan sekaligus mengembangkan karya bersama.
“Saya berangkat dari persamaan ataupun budaya, kita sama-sama di Asia ini dan juga dengan satu rumpun bahasa yang sama juga. Semoga memudahkan kami untuk bisa berkomunikasi juga,” kata Densis.
Kesamaan tersebut menjadi modal untuk membangun komunikasi selama proses kreatif berlangsung. Meski memiliki kedekatan budaya, Indonesia dan Malaysia tetap mempunyai ciri khas masing-masing yang dapat memberi warna berbeda pada hasil kolaborasi.

Asfarena melihat kekayaan identitas budaya sebagai salah satu hal menarik yang dapat diangkat melalui kerja sama ini. Ia menyebut kebaya sebagai salah satu identitas yang dibawanya dari Malaysia, sekaligus membuka ruang untuk melihat persamaan dan perbedaan dengan tradisi busana di Indonesia.
“Kita adalah negara ASEAN yang mempunyai identiti heritage yang berbeza. Ada kesamaan dari segi, kalau dibilangnya di sini, kebaya kurung. Mungkin di Indonesia juga berbeza bunyinya. Jadi apa yang saya bawakan di Malaysia adalah identiti kebaya,” ujar Asfarena.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa busana tradisional dapat menjadi titik temu dalam eksplorasi desain. Unsur yang memiliki kemiripan dapat dipelajari kembali, sementara perbedaan karakter dan pemaknaan budaya dapat menjadi sumber gagasan untuk menghasilkan karya yang memiliki identitas tersendiri.
Kolaborasi ini juga diharapkan dapat menjangkau berbagai generasi. Asfarena menilai gagasan yang lahir dari pertemuan keduanya berpeluang dikembangkan menjadi karya yang dapat diterima oleh beragam kalangan.
Dalam perbincangan mengenai arah kolaborasi, Asfarena menyampaikan harapannya agar ide yang mereka gabungkan dapat diteruskan dan digunakan oleh berbagai lapisan generasi. Baginya, proses kreatif tersebut menjadi kesempatan untuk mempertemukan perspektif yang berbeda dalam satu karya.
Densis pun berharap proses kolaborasi ini dapat menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menjadi sarana komunikasi budaya. Ia ingin kerja sama tersebut membuka peluang bagi para desainer dari kedua negara untuk saling mengenal dan membangun hubungan melalui fashion.
“Harapan tentu akan menghasilkan sebuah hal yang baik ke depannya. Kita berharap bisa ada sesuatu hal yang kita lakukan, kita perbuat, untuk bisa menjadikan budaya, ini sebuah ajang di mana kita bisa berkomunikasi melalui karya itu,” tutur Densis.

Saat ini, proses kolaborasi tersebut mulai dijalankan. Densis dan Asfarena berharap perpaduan gagasan serta latar budaya keduanya dapat menghasilkan karya yang memiliki karakter unik dan memperlihatkan kemungkinan baru dalam pengolahan identitas budaya melalui fashion.
Asfarena mengajak publik untuk menantikan hasil kerja sama mereka. “Jadi kayak apa, tunggu dan lihat bagaimana olahan kami berdua, menjadi sesuatu yang unik di antara dua negara, dua budaya disatukan,” katanya.
Densis juga berharap kolaborasi ini dapat menjadi inspirasi bagi desainer lain untuk membangun komunikasi dan kerja sama lintas negara. “Doakan saja, semoga ini bisa menjadi inspirasi bagi teman-teman yang lainnya untuk bisa berkomunikasi dengan baik antar negara,” ujarnya.
Melalui kolaborasi ini, Densis dan Asfarena membuka ruang untuk mempertemukan identitas budaya Indonesia dan Malaysia dalam proses kreatif fashion. Hasil akhirnya masih dinantikan, tetapi proses yang dimulai dari pertukaran gagasan ini menjadi langkah awal untuk mengembangkan karya bersama yang berakar pada kekayaan budaya kedua negara.
Penulis: Shilvia Yulianti S.
WhatsApp us